IMPLIKASI AYAT MAKKIYAH TERHADAP PENAFSIRAN AL- QURAN
Syarifuddin
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone
NIM: 862082022050
Email: andisyarif527@gmail.com
ABSTRAK
Al- Quran merupakan kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Quran merupakan mukjizat yang bersifat kekal berbeda halnya dengan mukjizat-mukjizat para Nabi terdahulu. Seperti telah kita ketahui bahwa Al-Quran diterima oleh Rasullah SAW dalam kurun waktu 23 tahun yaitu ada diturunkan ketika Rasul berada di Makkah dan ada yang diturunkan ketika Rasul berada di Madinah. Oleh karena itu secara umum para ulama rahimahumullahu membagi Al-Quran menjadi dua bagian: Makkiyah dan Madaniyah. Makkiyah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum berhijrah ke Madinah. Madaniyah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW setelah berhijrah ke Madinah. Namun dalam hal ini penulis akan memfokuskan kajiannya terhadap pengaruh ayat makkiah terhadap penafsiran Al-Quran.
Kata Kunci: Ayat Al-Quran, Makkiyah
ABSTRAC
The Qur'an is the word of Allah revealed to the Prophet Muhammad SAW. The Qur'an is an eternal miracle, different from the miracles of previous prophets. As we already know, the Koran was received by Rasullah SAW within a period of 23 years, namely some were revealed when the Apostle was in Mecca and some were sent down when the Apostle was in Medina. Therefore, in general, the Islamic scholars divided the Qur'an into two parts: Makkiyah and Madaniyah. Makkiyah is a revelation revealed to the Prophet Muhammad SAW before emigrating to Medina. Madaniyah is a revelation revealed to the Prophet Muhammad SAW after emigrating to Medina. However, in this case the author will focus his study on the influence of Makkiah verses on the interpretation of the Al-Quran
Key Word : Verse Al-Quran, Makkiyah
PENDAHULUAN
Luasnya kajian yang terdapat dalam keilmuan Al-Quran menuntut penulis untuk menentukan arah kajian yang dibahas dalam tulisan ini. Sehingga penulis akan memfokuskan arah kajian terhadap ayat makkiyah dan impilikasi terhadap penafsiran ayat Al-Quran juga mengungkapkan konteks dan pesan yang terkandung dalam ayat ayat tersebut yang erat kaitannya dengan relasi umat beragama.
Mengingat kembali kondisi orang Arab pada masa awal merupakan paduan masyarakat yang memiliki berbagai macam etnis dan suku yang pluralime, sehingga adanya ayat makkiayah maka konteks membaca diturunkannya ayat tersebut merupakan hal yang penting sebagai dasar dari teologi persuasif, yang diawali dari hubungan Al-Quran dengan dunia Arab pra Islam, Karena dalam hal ini relasi wahyu dengan masyaratkat Arab pra juga tentang teologi Islam terdapat dalam Al-Quran awal datangnya Islam.
Sebelum kedatangan Islam menurut sejarah terdapat beberapa fenomena sosial yang menggangu di kalangan masyarakat Arab. Seperti Perampokan, Perang antar suku, dan penyerangan sering terjadi dikalangan masyarakat pada waktu itu. Kebiasaan Masyarakat Arab yaitu memiliki rasa solidaritas yang amat tinggi hingga menjadi sebuah budaya. Dalam sejarah Arab masyarakat masih mengenal yang namanya Konsep Animisme dan Dinamisme, sehingga dapat dipastikan bahwa mereka taat pada agama. Mereka percaya dengan hal-hal yang mistis , seperti percaya bahwa sumur, tanah, gua, dan batu memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan tuhan atau dewa mereka.
(Deprizon et al., 2016) mengatakan Al-Quran menyoroti fenomena sosial Arab pada awalnya. Hal ini dapat dilihat dari narasi Al-Quran yang menceritakan, mengajak, dan menyerukan ketuhanan yang berlandasan kemanusiaan, seperti ayat makkiyah. Kisah-kisah ayat makkiyah, yang menggunakan ya ayyuhan nas atau yang menggunakan sumpah dalam bentuk ayat pendek, tidak dapat dipengaruhi oleh kebiasaan sosial masyarakat setempat.
Perihal yang terjadi di atas menjadi alur tema beberapa ayat yang diturunkan oleh Allah senantiasa untuk menegaskan dan menegakkan keimanan serta ketauhidan kepada masyarakat setempat pada saat itu (Harahap & Irham, 2022).
PEMBAHASAN
Makiyah yaitu suatu ayat yang diturunkan terhadap Rasul sebelum beliau melakukan hijrah ke Madinah. Kata Makkiyah tersebut berasal dari nama kota besar yaitu mekkah (Ika Rahmadiningsih et al., 2022). Lukmanun Hakim, 2022 dalam jurnal (Julaiha et al., 2022) defenisi dari Makkiyah ini telah banyak dikaji oleh para ulama, salah satunya ulama menjelaskan makkiyah berdasarkan kronologis turunnya Alquran tergolong dalam 2 priode yaitu priode Alquran turun di Makkah atau sekitar kota Makkah seperti Hudaibiyah, Arafah, Mina dan priode Alquran turun di Madinah atau sekitar Madinah yaitu Qurba, Uhud, Hula. Namun maksud priode turunnya di Makkah bukan hanya ayat/ surah Al-quran yang turun di kota Makkah saja akan tetapi dapat dimaknai bahwa ayat Alquran yang turun pada masa sebelum hijrah, begitu juga priode turunnya Alquran di Madinah dimaknai ayat/ surah dalam Alquran yang diturunkan pada masa hijrah dan setelah hijrah. Manna‟ Al Qattan, 2019 dalam jurnal (Muhammad Misbahul Huda, 2020) mengatakan salah satu ulama yang memberikan penjelasan tentang kronologis Makkiyah dan Madaniyah adalah Manna‟ Al-Qattan yang tertulis dalam Mabahits fi „Ulum al-Qur‟an. Ada tiga pandangan yang disampaikan oleh beliau, yakni: (1) Dari segi turunnya. Segi turun-nya al-Qur‟an dimaknai pengkategorian Makkiyah adalah pemaknaan sebelum hijrahnya Nabi. Sedangkan Madaniyah dikategorikan sesudah hijrahnya Nabi; (2) Dari segi tempat turunya. Makkiyah dimaknai kota Makkah dan sekitarnya, sedangkan Madaniyah dimaknai kota Madinah dan sekitarnya; (3) Dari segi sasarannya. Makkiyah ditujukan pada penduduk Makkah, sedangkan Madaniyah ditujukan pada penduduk Madinah. Dari segi sasaran/al-Mukhathab (teori subyek). Ayat-ayat yang umumnya dimulai dengan lafadz: Ya ayyuhan nas, Ya ayyuhal kafirun, Ya bani Adam, hal itu menunjukkan pada penduduk Mekah pada waktu itu terdiri dari orang kafir dan musyrik. Sedangkan Ayat-ayat yang biasanya diawali dengan lafadz: Ya ayyuhal ladzina amanu, hal itu menunjukkan bahwa penduduk Madinah ketika itu mayoritas adalah orang-orang beriman, dan penduduk-penduduk lainnya ikut terpanggil dalam ayat tersebut (Hakim & Afriadi Putra, 2022). Dari definisi di atas, para ulama menyimpulkan menjadi tiga segi yakni segi khitobi, makani dan zamani. Dalam ayat-ayat Makkiyah, yang menjadi khitob adalah orang-orang Mekkah yang pada umumnya adalah orang-orang musyrikin. Jadi ayat-ayat terebut membicarakan tentang kemusyrikan dan kepada mereka disuruh untuk bertauhid. Pada umumnya orang-orang Mekkah dan memiliki sifat-sifat sombong, keras kepala dan susah menerima ajaran agama. Sedangkan ayat-ayat yang diturunkan di Madinah khitobnya adalah orang-orang yang sudah beriman, juga orang-orang yang munafik dan ahli kitab yaitu orang-orang Yahudi (Husni, 2019).
Menurut Muhammad Yasir dan Ade Jamaruddin, 2016 dalam jurnal (Afifah & Sakdiah, 2022) Penyebutan kata Makkiyah dan Madaniyah baru muncul kemudian, yakni setelah Rasululah wafat. Beliau sendiripun tidak pernah menetapkan surat-surat mana yang termasuk ke dalam golongan Makkiyah dan mana pula yang termasuk Madaniyah. Sebagai buktinya tidak ada kesepakatan pendapat di kalangan para ulama mengenai persoalan yang terkait dengan kedua istilah tersebut, terutama mengenai arti sebenarnya pemakaian istilah Makkiyah dan Madaniyah, surat-surat mana dan berapa jumlahnya yang termasuk dalam kelompok Makkiyah dan yang termasuk kelompok Madaniyah pula.
Abul Qasim al-Hasan bin Muhammad bin Habib an-Naisabuuri dalam bukunya at-Tanbih al fadli Ulumil Quran bahwa Diantara ilmu-ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang nuzulul quran dan daerahnya, urutan turunnya di Mekkah dan di Madinah, tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi hukumnya madani dan sebaliknya, dan tentang yang diturunkan di Juhfah, di Baitul Makdis, Taif, atau Hudaibiyah, di waktu siang, diturunkan secara bersama-sama, atau diturunkan secara sendiri-sendiri, ayat-ayat madaniah dari surah-surah al-Makkiah, ayat-ayat Makkiah dalam surah Madaniah; yang dibawa dari Mekkah ke Madinah dan yang dibawa dari Madinah ke Mekkah; yang dibawa dari Madinah ke Abesinia, yang diturunkan secara global dan yang telah dijelaskan, serta yang diperselisihkan sehingga sebagian orang mengatakan Madani dan sebagian mengatakan Makki. Itu semua ada duapuluh lima macam. Orang yang tidak mengetahui- nya dan tak dapat membeda-bedakannya, ia tidak berhak berbicara tentang Quran (Jafar, 2012)
Ciri-ciri khusus surah Makkiyah diantaranya adalah ;
1) Setiap surah Makkiyah memiliki lafadz Kalla dan disebutkan sebanyak 33x dalam 15 surah Makkiyah di Al-Quran.
2) Di setiap surah Makkiyah mengandung ayat Sajdah
3) Surah Makkiyah selalu diawali dengan huruf alfabet seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Mim Ra, Ha Mim, dan lain-lain, kecuali pada surah al- Baqarah dan surah Ali Imran. Karena kedua surah tersebut menurut kesepakatan dari beberapa Ulama surah al-Baqarah dan surah Ali Imran adalah surah Madaniyah. Sedangkan surah ar-Radu masih diperselisihkan.
4) Pada setiap surah Makkiyah mengandung kisah dari para nabi-nabi dan umatnya yang terdahulu, kecuali surah al-Baqarah.
5) Setiap surah Makkiyah mengandung kisah Nabi Adam dan Iblis, kecuali surah al-Baqarah
6) Setiap surah Makkiyah terdapat lafadz يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا yang artinya wahai sekalian manusia (Habiba & Fatoni, n.d.)
Jika kita berpegang pada ciri yang keenam ini, akan ditemukan dua permasalahan ketika membaca sebagian ayat-ayat Alquran yaitu:
Pertama: Kebanyakan surat Alquran tidak selalu dibuka dengan salah satu seruan diatas, misalnya surat al-Ahzab dibuka dengan lafaz:
يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللّٰهَ وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَا لْمُنٰفِقِيْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
Dan contoh lain misalnya surat al-Munafiqun yang dimulai dengan lafaz:
اِذَا جَآءَكَ الْمُنٰفِقُوْنَ قَا لُوْا نَشْهَدُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُ اللّٰهِ ۘ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُهٗ ۗ وَا للّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَـكٰذِبُوْنَ
Berdasarkan redaksi dua ayat diatas, maka keduanya tidak termasuk Makkiyah dan tidak pula Madaniyah, karena keduanya turun bukan dengan lafaz يأيها الناس dan tidak pula يأيها الذين أمنوا kalau begitu ayat yang turun selain dari redaksi tersebut mau dimasukkan kepada golongan mana?.Melalui defenisi ini ditemukan tidak adanya kekonsistenan dalam menetapkan ayat-ayat Alquran.
Kedua: Tidak semua ayat atau surat yang terdapat didalamnya redaksi يأيها الناس meski Makkiyah dan tidak juga semua surat atau ayat yang terdapat dalamnya redaksi يأيها الذين أمنو meski Madaniyah, misal surat al-Baqarah yang termasuk Madaniyah, namun sebagian dari redaksi ayatnya terdapat lafaz:
Menurut imam ar-Razy di dalam tafsirnya Alquran adalah seruan Allah terhadap semua makhluk, ia dapat saja menyeru orang yang beriman dengan sifat, nama atau jenisnya. Begitu pula orang yang tidak beriman dapat diperintahkan untuk beribadah, sebagaimana orang yang beriman diperintahkan konsisten dan menambah ibadahnya (Nengsih & Wahidi, 2020).
7) Ayatnya pendek dan surahnya ringkas serta nada perkatannya keras dan agak bersajak (Sabir, 2019).
El- Mazni,2015 dalam bukunya (Aminullah, 2021) adapun dari segi tema dan gaya bahasanya Ayat Makiyah adalah sebagai berikut :
1. Bermaterikan tauhid dan menyembah kepada Allah, pembuktian risalah Kenabian dan Kerasulan, kebangkiatan dan balasan, kedahsyatan hari kiamat, neraka dan surge dan nikmatnya. Argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniyah,
2. Peletakan dasar-dasar syaríah, membangun akhlak yang mulia, sikap tegas terhadap musyrik yang banyak melakukan kriminal danmenumpahkan darah, memakan harta anak yatim, mengubur hidup-hidup bayi perempuan,
3. Menyebutkan kisah para nab idan umat-umat terdahulu sebagai itibar bagi mereka yang mendustai Rasulullah. dan yakin akan menang,
4. Ayat-ayatnya singkat dan padat, memiliki makna yang kuat, sehingga dapat dipahami.
Terdapat berbagai kepentingan dan faedah dalam mempelajari ilmu Makki dan madani diantaranya ialah untuk membedakan di antara nasikh dan Mansukh. Seandainya terdapat dua ayat atau lebih yang membicarakan berkenaan satu perkara, kemudian didapati hukum pada satu ayat itu bercanggah pada hakikatnya dengan hukum pada ayat yang lain, maka pengetahuan berkenaan mana ayat Makkiyyah dan mana ayat Madaniyyah akan menyelesaikan permasalahan ini. Ayat Madaniyyah akan menjadi nasikh kepada ayat Makkiyyah kerana melihat kepada ayat Madaniyyah turun terkemudian daripada ayat Makkiyyah. Selain itu, ia amat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran secara lebih terperinci. Ini kerana mengetahui tempat turun ayat akan membantu untuk memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang tepat dan jelas. Ilmu ini juga akan menimbulkan keyakinan terhadap al-Quran dan proses penerimaannya secara mutawatir kepada manusia dalam keadaan selamat daripada sebarang perubahan dan penambahan. ini membuktikan bahawa umat Islam begitu mengambil berat tentang setiap ayat yang diturunkan kepada mereka sanada sebelum hijrah atau selepas hijrah, di tempat mereka tinggal atau ketika musafir, waktu siang atau malam, musim sejuk atau musim panas, di bumi atau di langit dan sebagainya (Deprizon et al., 2016).
Abdul Mukti Bin Baharudin dan Hajah Makiyah Tussaripah Binti Jamil, 2016 mengatakan dalam jurnal (Afifah & Sakdiah, 2022) yang terakhirnya, yang akan menjadi fokus perbincangan dalam kertas kerja ini ialah tarbiyyah dan pengajaran buat para pendakwah di jalan Allah SWT supaya mengikuti cara dan kaedah al-Quran dalam menyampaikan dakwah. Metode penekanan tauhid dan pemantapan akidah pada ayat-ayat Makki dan penjelasan hukum-hakam pada ayat-ayat Madani boleh menjadi panduan kepada mereka dalam menyampai ajaran Islam kepada masyarakat. Prioriti memberikan kefahaman akidah Ahli Sunnah wa Jamaah yang sebenarnya akan melahirkan modal insan yang sempurna dalam semua aspek kehidupan. Ini kerana usul agama, iaitu akidah mempunyai hubungan yang amat rapat dengan syariat dan akhlak. Perkara ini dapat dilihat menerusi ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis yang mengaitkan iman dengan syariat dan akhlak.
Muhammad Husni,2019 mengatakan dalam jurnal (Julaiha et al., 2022) bahwa faedah mempelajari Ayat Makkiyah dan Madaniyah adalah:
1. Sebagai alat bantu dalam memahami Alquran, sebab pengetahuan ini memberikan kontribusi penting dalam menafsirkan ayat Alqur an dengan benar. Sebab, mengetahui tempat turun, kapan diturunkan, dan mengenai apa diturunkan.
2. Pengetahuan ini akan menjadi pegangan para musafir untuk mengetahui mana ayat yang mansukh dan naskh.
3. Meresapi gaya bahasa Alquran dan memanfaatkan keindahan dan kelenturan gaya bahasa tersebut dalam metode dakwah, sebab setiap situasi dan kondisi memiliki bahasa dakwah yang berbeda pula.
4. Mengetahui sejarah Nabi Muhammad SAW secara komprenshif melalui ayat- ayat Al- Quran, baik Ketika Nabi berada di Mekah ataupun Madinah.
Ajahari, 2018 dalam junal (Afifah & Sakdiah, 2022) juga mengatakan Usman menjelaskan bahwa manfaat mempelajari ilmu Makkiyah dan Madaniyah adalah:
1. Dapat dijadikan sebagai alat bantu dalam menafsirkan al-Quran.
2. Dapat diresapi gaya bahasa al-Quran dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab situasi dan kondisi yang berbeda harus dihadapi dengan bahasa dan metode tersendiri.
3. Dengan ilmu ini dapat diketengahkan sejarah Nabi SAW dengan cara mengikuti jejak langkah beliau dalam berdakwah baik ketika di Makkah maupun ketika di Madinah.
4. Dapat diketahui bentuk-bentuk dan sekaligus perbedaan terhadap gaya bahasa al-Quran dalam mengajak manusia menuju jalan yang benar.
5. Dengan ilmu ini dapat diketahui dan dijelaskan tingkat perhatian kaum muslimin terhadap al- Quran termasuk didalamnya hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan tentang sejarah pembentukan sesuatu hokum sekaligus hikmah pensyariatannya serta fase-fase pembebanannya. 6. Dapat diketahui lebih mudah ayat-ayat al-Quran yang nasikh dan Mansukh
7. Dapat diketahui mana ayat yang lebih dahulu diturunkan dan yang belakangan diturunkan.
PENUTUP
Kajian konsep dasar ayat makki sangat perlu dikaji lebih dalam, melihat dari segi signifikan sangat berbeda dari ayat madani. Turunnya ayat Al-quran dikota Makkah dan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah tentukan akan mempengaruhi tafsiran atau makna dari Al-Quran itu sendiri baik dari sisi kondisi masyarakat yang belum banyak memelka agama islam dan yang telah banyak mememeluk agama islam. Bagian terpenting dari "Uluml quran" adalah mempelajari dan memahami ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah karena kepentingan sejarahnya serta untuk memahami dan menafsirkan ayat-ayat tersebut.
Konsep Makki dan Madani, harus dipandang dari sisi yang luas, tidak semata fiqhiyyah karena akan terjebak pada persoalan tempat dan waktu. Padahal konsep ini mengandung adanya dinamika pada struktur dan nilai moral yang disampaikan melalui teks. Ilmu Makkiyah dan Madaniyah adalah ilmu yang membahas ihwal bagian Al-Quransurat atau ayat-yang Makkiyah dan bagian yang Madaniyah, baik dari segi arti dan maknanya, cara-cara mengetahuinya, atau tanda masing-masing, maupun macam-macamnya. Surah di dalam al-Quran berisi ayat tentang dua periode tersebutdan banyak para ulama yang memiliki perbedaan pendapat dalam menentukan hal tersebut. Tetapi bagaimanapun juga hal tersebut sudah terbukti dengan hasil pembagian yang sudah mapan, dan sudah tersebar luas secara ilmu tafsir, dan dijabarkan dari buktibukti internal dari teks al-Quran itu sendiri. Pengertian Makiyah dan Madaniyah menurut para ahli tafsir yaitu meliputi tentang masalah ruang, waktu, subyek dan konten. Disisi lain pemahaman tentang ayat makiyah dan madaniyah dapat membedakan ayat-ayat nasikh dan mansukh, mengetahui ciri khas gaya bahasa makki dan madani dalam al- Quran, dan untuk menjadi alat pembantu dalam penafsiran al-Quran.
DAFTAR PUSTAKA
Afifah, H., & Sakdiah, H. (2022). Makna Dan Karakteristik Ayat Al-Makky Dan Almadany Serta Urgensi Mempelajarinya. MUSHAF JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis, 2(2), 134142. https://doi.org/10.54443/mushaf.v2i2.27
Aminullah. (2021). Ulumul Quran (H. N. Aminiar (ed.); 1st ed.). Alauddin University Press.
Deprizon, Jasmine, A. A., Oktaviani, A. T., & Khasanah, sti S. (2016). Ayat Makkiyah Dan Madaniyah Dan Implikasi Terhadap Penafsiran Quran. 05(1), 123.
Habiba, H. K., & Fatoni, M. (n.d.). MAKKIYAH DAN MADANIYAH.
Hakim, L., & Afriadi Putra. (2022). SIGNIFIKANSI MAKKIYAH MADANIYAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENAFSIRAN AL-QURAN. 3(1), 95113. https://doi.org/10.21274/epis.2015.10.1.53-76.1
Harahap, S., & Irham, M. I. (2022). Pembentukan Keimanan Masyarakat Analisis Sejarah Ayat-Ayat Makkiyah. V(1), 29–42.
Husni, M. (2019). Studi Al-Qur’an: Teori Al Makkiyah dan Al Madaniyah. Al-Ibrah : Jurnal Pendidikan Dan Keilmuan Islam, 4(2), 70.
Ika Rahmadiningsih, Fitri Setia Putri, Fatya Zahriyani Fitri, & Nafi Hasbi, M. Z. (2022). Makiyah dan Madaniyah. Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Quran Dan Tafsir, 7(1), 4361. https://doi.org/10.47435/al-mubarak.v7i1.1023
Jafar, W. (2012). Ayat Makkiyah dan Madaniah dalam Al-Quran. Jurnal Studi Agama Dan Budaya Manarul Quran, 4(9), 112.
Julaiha, J., Farhaini, N., Hasibuan, R. F., & Sitorus, N. A. (2022). Makkiyah dan Madaniah. Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 4, 17071715.
Muhammad Misbahul Huda. (2020). KONSEP MAKKIYAH DAN MADANIYAH DALAM AL-QURAN (Sebuah Kajian Historis-Sosiologis Perspektif Fazlur Rahman). Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Quran Dan Tafsir, 5(2), 6181. https://doi.org/10.47435/al-mubarak.v5i2.459
Nengsih, D., & Wahidi, R. (2020). Makki Dan Madani Sebagai Cabang Ulum Al-Quran. Syahadah, 8(1), 5051.
Sabir, M. (2019). Konsep- Konsep dasar Tafsir. Al-Munir: Jurnal Ilmu Al-Quran Dan Tafsir, 1(2), 3554.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar