Rabu, 27 Desember 2023

AL-QUR'AN, SEJARAH TURUNNYA AL-QUR'AN DAN PERAN NABI MUHAMMAD DALAM SEJARAH AL-QUR'AN

 AL-QUR’AN, SEJARAH TURUNNYA AL-QUR’AN DAN PERAN NABI MUHAMMAD DALAM SEJARAH AL-QUR’AN


Nama :Ririn Dwi Anti

Nim    : 862082022040

Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIN Bone

Email: ririndwianti15@gmail.com

Abstrak 

Al-Qur’an adalah  kibat suci  umat  islam yang di turunkan secara bertahap dan berangsung-angsur. Penurunannya yang  secara bertahap atau berangsur-angsur itu melalui proses dan kurun waktu yang cukup lama, dari ayat yang pertama hingga ayat terakhir memakan waktu yang selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Al-Qur’an telah menempuh perjalanan panjang berabad-abad sejak pertama kali di turunkan hingga saat ini. Meskipun begitu, kemurnian dan keotentikan Al-Qur’an akan senantiasa terjaga dan terpelihara, sesuai dengan apa yang telah Allah jaminkan. Al-Qur’an yang di turunkan kepada Nabi Muhammad saw, tidak berbentuk tulisan atau berbentuk satu jilid yang tersusun rapi, melainkan berupa wahyu untuk itu, ada dua cara yang di lakukan oleh umat islam dalam menjaga dan memelihara kesucian Al-Qur’an dari kemusnahan yaitu dengan cara hafalan dan penulisan. Pada waktu itu, Al-Qur’an yang tertulis tidak mempunyai peranan yang signifikan pada proses pembelajaran Al-Qur’an. Dar Al-Arqam dan rumah Nabi menjadi tempat pembelajaran Al-Qur’an pada periode Mekkah dan Periode Madinah. Pada artikel ini penulis mencoba mendeskripsikan tentang Al-Qur’an dan sejarahnya melalui pembahasan tentang Pengertian Al-Qur’an, sejarah turunnya Al-Qur’an dan peran Nabi Muhammad dalam Sejarah Al-Qur’an.

Kata Kunci: Al-Qur’an, Sejarah turunnya Al-Qur’an

 dan Peran Nabi Muhammad dalam Sejarah Al-Qur’an.


Abstrak 

The Koran is the holy book of Muslims which was revealed gradually and gradually. Its gradual or gradual decline went through a process and over a fairly long period of time, from the first verse to the last verse it took approximately twenty-three years. The Koran has traveled a long journey over the centuries since it was first revealed until now. Even so, the purity and authenticity of the Koran will always be maintained and maintained, in accordance with what Allah has guaranteed. The Al-Qur'an which was revealed to the Prophet Muhammad saw, was not in written form or in the form of one neatly arranged volume, but in the form of a revelation. For this reason, there are two ways used by Muslims to protect and preserve the sanctity of the Al-Qur'an from destruction, namely by memorizing and writing. At that time, the written Al-Qur'an did not have a significant role in the Al-Qur'an learning process. Dar Al-Arqam and the Prophet's House became a place for learning the Qur'an in the Mecca and Medina periods. In this article the author tries to describe the Qur'an and its history through a discussion of the meaning of the Qur'an, the history of the revelation of the Qur'an and the role of the Prophet Muhammad in the history of the Qur'an.

Keywords: The Qur’an, The History of The Revelation of the Qur’an and the role of the Prophet Muhammad in the History of the Qur’an. 


A. Pendahuluan

Al-Qur’an adalah kitab suci Agama Islam yang di turunkan kepada Nabi Muhammad yang berisi tuntutan-tuntutan Allah swt bagi umat manusia untuk di pedomani sehingga mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat, lahir dan batin. Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan Akidah, Syariah dan Akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsip mengenai persoalam-persoalan tersebut. Dan Allah swt menugaskan Rasul-Nya untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu. Allah swt berfirman: “kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah di turunkan kepada mereka agar di fikirkannya”. Al-Qur’an adalah kitab Allah swt petunjuk yang di dalamnya memuat ajaran moral universal bagi umat manusia sepanjang masa. Dalam posisinya sebagai kitab petunjuk, Al-Qur’an di yakini tidak akan pernah lekang di makan zaman.

Al-Qur’an adalah kalam illahi yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad sebagai pendidik dan guru terbaik yang telah mampu dan sukses dalam mengajar dan membentuk generasi terbaik umat islam dan generasi sahabat. Al-Qur’an yang di turunkan kepada Nabi Muhammad saw, tidak berbentuk tulisan atau berbentuk satu jilid yang tersusun rapi, melainkan berupa wahyu untuk itu, ada dua cara yang di lakukan oleh umat islam dalam menjaga dan memelihara kesucian Al-Qur’an dari kemusnahan yaitu dengan cara hafalan dan penulisan. Dua cara tersebut telah di lakukan sejak zaman Nabi Muhammad saw dan masih berlangsung hingga saat ini. Mushaf Al-Qur’an yang ada di tangan kita hingga sekarang ternyata telah melalui perjalanan panjang yang berliku-liku selama kurun waktu lebih dari 1400 tahun yang silam dan mempunyai latar belakang sejarah yang panjang.


B. Pembahasan

1. Pengertian Al-Qur’an

Kata Al-Qur’an adalah isim alam (nama) yang di gunakan untuk menyebut kitab suci yang di turunkan kepada Nabi Muhammad. Ia tak ubahnya seperti Turat dan Injilyang di gunakan untuk menyebut kitab yang di berikan kepada Musa dan Isa. Menurut pendapat ini, Al-Qur’an bukan turunan (musytaqq) dari kata apapun, melainkan isim murtajal, yakni kata yang berbentuk seperti itu sejak semula. Pendapat ini di kemukakan antara lain oleh Al-Syafi’i.

Kata Al-Qur’an berasal dari qarana yang berarti menghimpun atau menggabung. Hal ini sesuai dengan sifat Al-Qur’an yang menghimpun huruf, ayat, dan surat. Pendapat ini di kemukakan oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ary (260-324 H/767-280 M). pendapat yang hampir sama dengan yang di kemukakan oleh Al-Farra (w. 207 H/823 M) yang mengatakan Al-Qur’an berasal dari kata qara’in (jamak qarinah). Secara morfologis, kata qara’in juga bearasal dari qarana. Qara’in berarti pasangan, bukti, atau sesuatu yang menjelaskan. Di namakan demikian karena ayat-ayat Al-Qur’an bersifat saling berhubungan dan saling menjelaskan satu dengan yang lainnya.

Kata Al-Qur’an adalah bentuk masdar dari qara’a yang berarti membaca. Al-Qur’an merupakan masdar yang juga bermakna maf’ul, sehingga artinya bacaan. Bentuk ini sama dengan ghufran (ampunan) yang merupakan masdar dari ghafara (mengampuni). Pendapat ini di sampaikan oleh Lihyany dan Al-Zajjaj, hanya saja Al-Hajjaj memilih mengumpulkan sebagai makna qara’a. Meskipun begitu, antara membaca dan mengumpulkan sesungguhnya memiliki kaitan makna, karena membaca hakikatnya adalah mengumpulkan huruf dan kata dalam ucapan, sehingga anatara kedua bisa berarti sama. Pendapat ini juga di sandarkan pada ayat Al-Qur’an yang berbunyi :  “Sesungguhnya tanggungan kamilah mengumpulkan (di dadamu) dan (membuat mu pandai) membacanya. Maka, apabila kami selesai membacakannya, ikutilah bacaan itu.” (Al-Qiyamah: 17-18)

Dari ketiga pendapat tersebut, tampak bahwa pendapat Al-Lihyany lebih mendekati kebenaran. Apabila di dalam Al-Qur’an terdapat banyak tata Qur’an yang hadir dengan pengertian bacaan, seperti pada ayat berikut: 

“Sesungguhnya AlQur’an adalah bacaan yang mulia.” (QS. Al-Waqi’ah ayat 77)

Al-Qur’an memiliki beberapa definisi. Banyaknya definisi Al-Qur’an tidak terlepas dari sudut pandang ulama yang menyusun nya atau kepentingan kajiannya. Meskipun demikian, definisi-definisi itu memiliki esensi yang sama. Bebebrapa di antaranya:

 Al-Qur’an adalah firman Allah yang berfungsi sebagai mu’jizat yang di turunkan kepada penutup nabi dan rasul melalui perantara malaikat Jibril AS, di tulis dalam mushaf, di nukilkan kepada kita secara mutawatir , membacanya di anggap ibadah, di mulai dengan surah Al-Fatihah dan di tutup dengan surah An-Nas.

Al-Qur’an ialah wahyu Allah yang di turunkan dari sisi llah kepada Rasul-Nya  sang penutup para nabi, yang di nukilkan secara mutawatir baik lafal maupun maknanya, dan merupakan kitab samawi terakhir yang di turunkan.

Al-Qur’an adalah firman Allah swt yang di turunkan kepada Nabi Muhammad saw, yang tertulis dalam mushaf, di riwayatkan secara mutawatir, membacanya bernilai ibadah, dan berfungsi sebgai mu’jizat meski hanya dengan satu surah darinya

2. Nuzulul Qur’an

a. Pengertian Nuzulul Qur’an

Nuzulul Qur’an terdiri dari kata nuzul dan Al-Qur’an yang berbentuk ifadah. Penggunaan kata Nuzul dalam istilah nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an ) tidaklah dapat kita pahami maknanya secara harfiah, yaitu menurunkan sesuatu dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sebab Al-Qur’an tidaklah berbentuk fisik atau materi. Tetapi pengertian Nuzulul Qur’an yang di maksud adalah pengertian majazi, yaitu penyampaian informasi (wahyu) kepada Nabi Muhammad SAW dari alam ghaib ke alam nyata melalui perantara malaikat Jibril AS.

Muhammad Abdul Azhim Al-Zarqni mentakwilkan kata nuzul dengan kata i’lam (seperti yang di kutip oleh Rif’at Syauqi Nawawi dan M.Ali Hasan). Alasannya; pertama, mentakwilkan kata nuzul dengan i’lam berarti kembali pada apa yang telah di ketahui dan di pahami dari yang di acuanya, kedua, yang di maksud dengan adanya Al-Qur’an di Lauh al-mahfudz, Baitul Izzah dan dalam hati Nabi Muhammad SAW, juga berarti bahwa Al-Qur’an telah i’lam-kan oleh Allah swt pada masing-masing tempat tersebut sebagai petunjuk bagi manusia untuk mencapai kebenaran, ketiga, mentakwilkan kata nuzul dengan i’lam hanyalah tertuju pada Al-Qur’an semata dengan semua segi dan aspeknya.

b. Proses Turunnya Al-Qur’an

Perbedaan kitab Al-Qur’an yang di pandang dari aspek proses penurunannya sangat jauh berbeda dengan kitab-kitab wahyu lainnya. Sehingga karena alasan perbedaan tersebut, sikap meragukan sumber munculnya teks wajar ketika di pertanyakan oleh orang-orang kafir. Menurut Manna Al-Qaththan, terdapat dua mahzab pokok di kalangan para ulama di seputar pemahaman tentang proses turunnya Al-Qur’an, yaitu:

Pendapat Ibnu Abbas dan sejumlah ulama, bahwa yang di maksud dengan turunnya Al-Qur’an ialah turunnya l-Qur’an secara sekaligus ke Baitul Izzah di langit dunia untuk menunjjukkan kepada para malaikatnya bahwa betapa  besar masalah ini, selanjutnya Al-Qur’an di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap selama dua puluh tiga tahun dengan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya sejak beliau di utus sampai wafatnya. Pendapat ini di dasarkan pada riwayat-riwayat Ibnu Abbas. Antara lain:

“Al-Qur’an di turunkan sekaligus ke langit dunia pada lailah al-qadr. Kemudian setelah itu, ia di turunkan selama dua puluh tahun”.

“Al-Qur’an di pisahkan dari al-zikr, lalu di letakkan di Baitul Izzah di langit dunia. Maka Jibril mulai menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW”.

“Al-Qur’an di turunkan pada lailah al-qadr pada bulan Ramadhan ke lamgit dunia sekaligus, lalu ia di turunkan secara berangsur-angsur”.

Pendapat yang di sandarkan pada Al-Sya’bi bahwa permulan turunnya Al-Qur’an di mulai pada Lilah Al-Qadr di Ramadhan, malam yang di berkahi.

Pendapat yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an di turunkan ke langit dunia pada dua puluh malam kemuliaan (lailah al-qadr), yang setiap malam kemuliaan tersebut ada yang di tentukan oleh Allah untuk di turunkan setiap tahunnya, dan jumlah untuk atu tahun penuh itu kemudian di turunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW.

Ada juga sebagian ulama yang berpendapat bahwa Al- Qur’an turun pertma-tama secara berangsur-angsur ke lauh al-mahfudz, kemudian di turunkan secara sekaligus ke Bait Al-Izzah. Dan setelah itu, turun secara sedikit demi sedikit.


3.   Peran Nabi Muhammad dalam Sejarah Al-Qur’an

Berdasarkan keterangan ulama yang di peroleh dalam kitab-kitab ulum Al-Qur’an bahwa periode turunnya Al-Qur’an terbagi menjadi dua periode yaitu periode sebelum hijrah (ayat makkiyah) dan periode setelah hijrah (ayat madaniyah). Periodesasi makkiyah-madaniyyah ini berpijak pada peristiwa hijrah Nabi sebagai titik peralihan. Sedangkan ayat madaniyah karena ayat-ayat di turunkan ketika Nabi Muhammad SAW berada di Madinah dan umumnya berisi tetang risalah.



a. Periode Mekkah

Mekkah adalah salah satu kota termahsyur dalam sejarah Islam karena di kota inilah Rasulullah terakhir di utus kepada umat manusia, yakni Nabi Muhmmad, di lahirkan pada tahun 570 M. Makkah merupakan sebuah kota yang terletak di area pegunungan yang panas, tidak ramah dan terjal. Di sana di temukan sebuah perkampungan yang terdiri atas rumah-rumah kumuh dan becek. Ia menjadi sasaran banjir bandang yang di sebabkan oleh hujan lebat yang turun di kota tersebut.

Berdasarkan nama tempat ini, di kenal sebuah istilah bagi periodesasi dakwah Nabi yang pertama, yakni periode Makkah ( al-Fatrah Al-Makkiyah). Periode ini merujuk kepada aktivitas Nabi Muhammad selma masih berada di Makkah (pra-hijrah) hingga beliau melaksanakan hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. 

b. Periode Madinah

Madinah pada masa pra-Islam di sebut Yastrib. Setelah hijrah ke kota ini mnjeadi rumah Nabi Muhammad SAW. Madinah merupakan sebuah oasis berjarak 440 km, dari utara Mekkah. Ia semula adalah pemukiman petani dengan hutan-hutan palem serta tanah pertania yang tersebar luas. Penghininya anatara alain adalah orang Arab dan Yahudi. Dengan bermukimnya Nabi di sana, Yastrib di sebut dengan julukan kota Nabi (Madinah An-Nabi) atau singkatnya Madinah.

Setelah Nabi pindah ke Madinah, aktivitas pertma kali yang di lakukannya adalah membangun mesjid. Tanah masjid Nabi pada asalnya merupakan sebuah marbad (tempat utuk mengeringkan kurma) milik dua anak yatim dari Bani Najjar yang bernama Sahl dan Suhail. Nabi membeli tnah ini dari mereka untuk membangun mesjid dan rumah-rumahnya. Pada masa selanjutnya, masjid ini menjadi puat pendidikan. Di antara tempat-tempat pendidikan yang ada di Madinah adalah:

1. Shuffah. Shuffah adalah suatu tempat yang telah di pakai untuk melaksanakan aktivitas pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru (muhajirin) yang tergolong miskin dan tidak punya tempat tinggal. Di sini, para sahabat di ajarkan membaca dan menghafal Al-Qur’an secara benar, di amping ini juga di ajarkan materi hukum islam di bawah bimbingan langsung dari Nabi.

2. Dar Al-Qurra. Dar Al-Qurra ini yang secara etimologis berarti rumah para pembaca Al-Qur’an. Semula ia merupakan rumah milik Makhramah bn Naufal, namun tidak ada kejelasan apakah Dar Al-Qurra ini merupakan asrama bagi para Qari, tempat belajar mereka atau tempat tinggal sekaligus tempat belajar. Namun yang akhir ini agaknya yang lebih mendekati kebenaran, di natara nama sahabat yang tinggal di rumah ini adalah Ibn Umm Maktum.

3. Kuttab. Kuttab berarti tempat belajar atau tempat di mana di langsungkan kegiatan tulis-menulis, bentuk jamaknya katatib, biasanya Kuttab ini di pakai sebagai tempat pendidikan yang di khususkan bagi anak-anak. Ahmad Syabali membedkan antara kuttab yang khusus untuk mengajar anak-anak baca tulis dan kuttab yang di gunakan untuk mengaji Al-Qur’an dan dasar-dasar agama.

4. Masjid. Semenjak masjid berdiri di zaman Nabi, ia telah di jadikan pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial dan ekonomi. Sebagai contoh, ketika turun ayat Al-Qur’an beliau langsung keluar menuju mesjid dan membcakannya kepada para sahabat. Pada saat itu, terdapat sembilan buah masjid di Madinah yang kemungkinan juga di pakai sebagai madrasah.

5. Rumah para Sahabat. Rumah para sahabat juga di pakai untuk belajar dan mengajar meskipun tidak secara rutin. Misalnya apabila Nabi kedatangan tamu-tamudari daerah sekitar Madinah, mereka menginap di rumah para sahabat. Seraya menginap, mereka belajar Al-Qur’an dan ajaran Islam dan Nabi atau sahabat pemilik rumah. 

C. Kesimpulan

Kata Al-Qur’an adalah isim alam (nama) yang di gunakan untuk menyebut kitab suci yang di turunkan kepada Nabi Muhammad. Ia tak ubahnya seperti Turat dan Injilyang di gunakan untuk menyebut kitab yang di berikan kepada Musa dan Isa. Menurut pendapat ini, Al-Qur’an bukan turunan (musytaqq) dari kata apapun, melainkan isim murtajal, yakni kata yang berbentuk seperti itu sejak semula. Pendapat ini di kemukakan antara lain oleh Al-Syafi’i.

Nuzulul Qur’an terdiri dari kata nuzul dan Al-Qur’an yang berbentuk ifadah. Penggunaan kata Nuzul dalam istilah nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an ) tidaklah dapat kita pahami maknanya secara harfiah, yaitu menurunkan sesuatu dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sebab Al-Qur’an tidaklah berbentuk fisik atau materi. Tetapi pengertian Nuzulul Qur’an yang di maksud adalah pengertian majazi, yaitu penyampaian informasi (wahyu) kepada Nabi Muhammad SAW dari alam ghaib ke alam nyata melalui perantara malaikat Jibril AS.

Berdasarkan keterangan ulama yang di peroleh dalam kitab-kitab ulum Al-Qur’an bahwa periode turunnya Al-Qur’an terbagi menjadi dua periode yaitu periode sebelum hijrah (ayat makkiyah) dan periode setelah hijrah (ayat madaniyah). Periodesasi makkiyah-madaniyyah ini berpijak pada peristiwa hijrah Nabi sebagai titik peralihan. Sedangkan ayat madaniyah karena ayat-ayat di turunkan ketika Nabi Muhammad SAW berada di Madinah dan umumnya berisi tetang risalah. Adapun bagiannya yaitu:

Periode Mekkah, dan

Periode Madinah



DAFTAR PUSTAKA


Abdullah. A.  1993. Wawasan Baru Tarikh al-Qur’an. Cet.III. Bandung : penerbit mizan.

Ali. M.  2003. al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an. Kairo: Dar al-Shabuni.

Atar. N. 1993. Ulum Al-Qur’an al-Karim. Damaskus: AS-Shabah.

Dahlan. A. dkk. 1996 (ed), Enseklopedia Hukum Islam I. Cet. I; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.

Espasito dan John L. 2002. Ensiklopedia-Oxford Dunia Islam Modern. Cet. II. Bandung: Mizan.

Fattah. A.2003. Thabbarah, Ruh al-Din al-Islami. Beirut: Darul Ilm lil-Malayin.

Nawawi. R. dan M.Ali Hasan. 1992.  Pengantar Ilmu Tafsir. Cet. II; Jakarta: PT Bulan Bintang.

Qaththan. M.  dkk. 2006.  Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Cet. I; Jakarta: Pustaka Al-Kautsar 

Shalih. S. 1977. Mahabits fi Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Ilmi li al-Malayin.

Susari. 2004. Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan. Cet.I.Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada.

Suyuthy. J.  dan al-Itqanfi. 2008. Ulum al-Qur’an. Beirut: Muassasatu al-Risalah Nasyirun.

Syalabi dan Ahmad. 1960. Tarikh at-Tarbiyah al-Islamiyyah. Cet. II. Kairo: Maktabah al-Anjlo al-Mashriyyah.. 

Yaqub dan Ali Mustafa. 2000. Sejarah dan Metode Dakwah Nabi. Cet. II. Jakarta: PT. Pustaka Firdaus. 

Yunan. M.  2020. Nuzulul Qur’an dan Asbabun Nuzul. Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman dan Kemasyarakatan. Vol. 2, No. 1, hh 57-61.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENELAAH TERJEMAHAN SURAH AL-WAQI’AH DAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA

MENELAAH TERJEMAHAN SURAH AL-WAQI’AH DAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA NUR ADIL MIRAJ 862082022065 Email: adilmiraj22@g...