Kamis, 28 Desember 2023

I’JAZ AL-QUR’AN: MAKNA, UNSUR, ASPEK-ASPEK, DAN MACAM- MACAMNYA

I’JAZ AL-QUR’AN: MAKNA, UNSUR, ASPEK-ASPEK, DAN MACAM- MACAMNYA

Nama: Siti Salwa

Nim: 862082022059

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Negeri  (IAIN) Bone 

Email: sittisalwa6@gmail.com  

Abstract 

I'jaz Al-Quran refers to the ability of the Quran to demonstrate the truth of Prophet Muhammad's message by showing the weaknesses of humans. Although the terms "I'jaz" or "mukjizat" are not mentioned in the Quran or by early writers, scholars agree that something extraordinary that happens to a Prophet is called a mukjizat. The concept of I'jaz Al-Quran also implies that the Quran has foretold scientific facts that would later be discovered and proven by scientific experiments, and that could not be reached or known by the means of life during the time of Prophet Muhammad. The Quran is considered the primary source of Islamic teachings, and its authenticity is guaranteed by Allah SWT. The Quran was revealed to Prophet Muhammad through the angel Gabriel, and Allah SWT will protect its authenticity throughout time. The methodology used to study I'jaz Al-Quran is through library research, which involves using written materials published through print or electronic media related to the research topic as a reference for further description and conclusion. 

Keywords: Makna, I’jaz Al-Qur’an, Unsur, Aspek-Aspek, dan Macam-Macamnya

Abstrak 

I'jaz Al-Quran mengacu pada kemampuan Al-Quran untuk menunjukkan kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW dengan menunjukkan kelemahan manusia. Meskipun istilah “I’jaz” atau “mukjizat” tidak disebutkan dalam AlQur’an atau oleh para penulis awal, namun para ulama sepakat bahwa sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada seorang Nabi disebut mukjizat. Konsep I'jaz AlQuran juga mengandung makna bahwa Al-Quran telah meramalkan fakta-fakta ilmiah yang nantinya akan ditemukan dan dibuktikan melalui eksperimen ilmiah, dan yang tidak dapat dijangkau atau diketahui melalui sarana kehidupan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Al-Qur'an dianggap sebagai sumber utama ajaran Islam, dan keasliannya dijamin oleh Allah SWT. Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril, dan Allah SWT akan menjaga keasliannya sepanjang masa. Metodologi yang digunakan untuk mengkaji I'jaz Al-Quran adalah melalui penelitian kepustakaan, yaitu dengan menggunakan bahan-bahan tertulis yang dipublikasikan melalui media cetak atau elektronik yang berkaitan dengan topik penelitian sebagai acuan untuk uraian dan kesimpulan lebih lanjut. 

Kata Kunci: Meaning, I'jaz of the Qur'an, Elements, Aspects and Various Types 

A. PENDAHULUAN 

Islam merupakan agama samawi yang diturunkan oleh Allah kepada seluruh manusia melalui utusan-Nya, yaitu Muhammad. Ajaran Islam terdapat dalam kitab suci Al-quran dan surah Rasulullah. Keduanya menjadi pegangan utama bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan (Tarigan et al., 2023). AlQur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad Saw, yang keautentikan (keaslian) Al-Qur’an dijamin oleh Allah SWT. Dia lah yang menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantaraan malaikat Jibril, dan Dia pulalah yang akan mempertahankan keaslian atau orisinalitasnya sepanjang waktu (Pakhrujain & Habibah, 2022). Al-Quran sebagai wahyu terbesar sekaligus berfungsi sebagai petunjuk hidup yang harus diimani dan dipedomani, berisi risalah Islamiyah, tersirat juga hikmah-hikmah yang menakjubkan yang disebut dengan mukjizat. Ketika istilah I’jaz disematkan kepada Alquran, maka menuntut agar Kitab Suci yang dibawa oleh Rasulullah ini dapat menundukkan seluruh tulisan-tulisan yang pernah ada, sekaligus juga menobatkan Alquran menjadi Kitab paling mulia dan tidak terbantahkan. Kata I’jaz merupakan bagian yang tak terlepas kan dari seorang Rasul yang diutus Allah kepada umatnya untuk menyampaikan risalah. I'jaz merupakan kemampuan untuk menundukkan manusia sehingga secara serta-merta menjadikan seorang manusia mempercayai akan kebenaran dari ajaran atau risalah yang dibawa oleh seorang Rasul. Kemampuan I’jaz ini kemudian menjadi bagian dari seorang Rasul yang dapat disebut juga dengan mu'jizat. Mu'jizat yang diperlihatkan oleh seorang Rasul, merupakan sesuatu yang dari sebelumnya telah diketahui oleh manusia secara umum. Dapat dikatakan juga sesuatu yang dapat dipahami oleh manusia akan tetapi tidak dapat dilakukan atau diperoleh oleh manusia awam. Mu'jizat merupakan hal yang menyalahi sesuatu yang biasanya terjadi akan tetapi masih dalam batas pengetahuan yang dapat dipahami manusia, sehingga dapat dibuktikan dan disaksikan oleh manusia pada umumnya. Karena apabila mu’jizat bukan sesuatu yang dapat dimengerti maka tidak akan memberikan manfaat bagi umat yang diperlihatkan mu'jizat tersebut. Akan tetapi kalau dapat dipahami dan ia menyadari kekerdilan dirinya di hadapan mu'jizat tersebut sehingga tergerak untuk mengimaninya secara objektif (Nurkhatiqah et al., 2022). 

B. METODE PENELITIAN 

Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan menggunakan penelitian kepustakaan atau library research, Yaitu penelitian yang sumber datanya diambil dari bahan-bahan tertulis yang telah dipublikasikan, baik melalui media cetak maupun elektronik yang berhubungan dengan tema penelitian ini sebagai bahan acuan selanjutnya dideskripsikan serta dibuat suatu kesimpulan. Dengan metode ini segala sesuatu yang berkaitan dengan I’jaz Al-Quran dapat dapat memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya. 

C. HASIL PEMBAHASAN 

1. Makna I’jaz Al-Qur’an

I'jaz Al-Qur'an terdiri dari dua kata: kata I’jaz dan Al-Qur'an. Kata AlQur'an berasal dari Qara'a yang berarti kumpulan (al-Jam'u), menghimpun menjadi satu (al-Dhommu) sehingga kata masdar dari kata Qara'a adalah alQira'ah yang berarti mengumpulkan huruf dan kalimat yang menyatu dalam mushab (artartil). Kata Al- Qur'an juga merupakan kata masdar dari kata Qara'a dan juga sinonim dengan kata Qira'ah. Dalam kajian ilmu al-Sharaf, kata AlQur'an merupakan masdar dengan fiktif fu'laanun, meskipun bersifat masdar, tetapi artinya maf'ul, yaitu membaca. Sedangkan Al-Qur'an sebagai wakil dari definisi-definisi yang ada, diantaranya: “Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menganggap ibadah (pahala) membacanya” (Haidir, 2022). 

Meski dalam Al-Qur’an maupun hadis tidak ditemukan kata-kata mukjizat untuk menunjukkan sesuatu keistimewaan yang terjadi pada diri Nabi/ Rasul. Yang ada adalah kata Ayat atau Al-Bayyina .Namun ulama sepakat bahwa sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada diri Nabi/ Rasul dinamakan mukjizat. Secara bahasa, kata I'jaz berasal dari kata 'ajz yang berarti kelemahan atau ketidakmampuan. Kata I'jaz adalah bentuk nominaverbal dati kata 'ajaza yang berarti mendahului. Dengan demikian istilah al-l'jaz al-Tmi (kemukjizatan ilmiah) Alquran atau al-Hadismisalnya mengandung makna bahwa kedua sumber ajaran agama itu telah mengabarkan kepada kita tentang fakta-fakta ilmiah yang kelak ditemukan dan dibuktikan oleh eksperimen sains umat manusia, dan terbukti tidak dapat dicapai atau diketahui dengan sarana kehidupan yang ada pada zaman Rasulullah saw. Hal itu membuktikan kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw. (Pasya, 2004). 

Sementara secara istilah, Imam al-Syuyuti mengatakan bahwa mu’jizat adalah sesuatu yang luar biasa, yang disertai tantangan dan selamat dari perlawanan. AlZarqani mendefinisikan mu’jizat sebagai perkara yang luar biasa, yang keluar dari batas-batas sebab yang dikenal. Dia diciptakan oleh Allah atas orang yang mengaku sebagai Nabi, yang menjadi saksi dari kebenaran risalah yang dibawanya. Sedangkan menurut M. Bakr Ismail, mu’jizat adalah sesuatu hal yang luat biasa yang disertai tantangan, yang Allah jadikan pada diri Nabi sebagai bukti kebenaran da’wah-nya. Sementara Quraish Shihab mengungkapkan mu’jizat sebagai sesuatu hal yang luar biasa, yang terjadi melalui seorang yang mengaku sebagai Nabi. Sebagai bukti kenabiannya, yang ditantang kepada orang yang ragu untuk melakukan dan mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu (Bakar, 2014). 

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, “kata mukjizat” diartikan sebagai kejadian yang luar biasa yang sukar dijangkau oleh akal pikiran manusia. Pengertian ini punya muatan yang berbeda dengan pengertian I’jaz dalam perspektif Islam (Shihab, 1998). I`jaz sesungguhnya menetapkan kelemahan ketika mukjizat telah terbukti, maka yang tampak kemudian adalah kemampuan atau “mu`jiz” [yang melemahkan], oleh sebab itu I’jaz AI-Qur`an menampakkan kebenaran Muhammad SAW dalam pengakuannya sebagai rasul yang memperlihatkan kelemahan manusia dalam menandingi mukjizatnya. Kata I’jaz atau mukjizat memang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an maupun oleh para penulis terdahulu. Sebaliknya, mereka menggunakan kata- kata Ayah atau Karamah, sampai Al-Wasithi memilih sebagai judul tulisan beliau yang terkenal. Kata Mu’jizah memberi makna baru yang didefinisikan oleh para teolog sebagai sesuatu yang di luar nalar atau kemampuan akal manusia, menantang dan tidak mungkin dikalahkan. Kata mukjizat diambil dari bahasa Arab a’jaza-i·j’jaz yang mengandung arti ketidakmampuan. Mukjizat ialah membuat orang menjadi tunduk, sesuatu yang datang kemudian, dan membuat orang menjadi lemah karena tidak mempunyai kemampuan menghadapi sesuatu (Mu’in & Rudi, 2020). 

2. Unsur-Unsur I’jaz Al-Qur’an  

a). Peristiwa luar biasa yang terjadi pada seorang yang mengaku nabi atau rasul. Sebesar apa pun peristiwa atau kejadian itu bila tidak berasal dari orang yang menjelaskan ke-Nabi dan ke-Rasulannya, maka tidak dapat dikatakan mukjizat, karna bisa jadi peristiwa tersebut adalah sihir, Karamah dan atau kelebihan lain yang dapat dipelajari. Sebab sihir sesuai dengan salah satu makna harfiahnya, berarti dusta alias tipu daya (tidak sesungguhnya). Sedangkan mukjizat adalah sesuatu yang benarbenar terjadi. Pendapat yang lain adalah harus menyalahi tradisi atau adat kebiasaan. Sesuatu mukjizat yang tidak menyalahi tradisi atau kejadiannya sesuai dengan kebiasaan yang umum atau bahkan lazim berlaku, tidak dapat dikatakan mukjizat (Suma, 2019).

b). Peristiwa-peristiwa alam yang menakjubkan tidak serta disebut sebagai sebuah mukjizat. Itu karena hal tersebut dikategorikan sebagai peristiwa biasa yang nampak sehari-hari. Sementara itu, yang dimaksud dengan luar biasa dalam konsep ini adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan sebab-akibat yang diketahui secara umum hukumhukumnya. Dengan demikian, sebagai contoh, ilmu hipnotis dan sihir tidak termasuk ke dalam pengertian luar biasa dalam konsep ini, meskipun keduanya dapat membuat takjub orang yang menyaksikannya. Perbedaan antara mukjizat dengan kejadian supra natural lainnya adalah dalam tantangannya, mukjizat ditujukan kepada kekuatan orang-orang melalui utusan khusus yang telah dikirim. Mukjizat mendobrak hukum-hukum alam yang telah ditentukan oleh Allah yang tidak dapat dilanggar atau ditunda kecuali atas izin-Nya (Ulummudin, 2020). 

c). Mukjizat harus mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian. Salah satu kriteria yang harus dimiliki oleh mukjizat adalah tantangan dari seorang nabi dan rasul yang tantangan tersebut tidak akan mungkin tertandingi. Tantangan yang dimaksud untuk membenarkan risalah yang diembahnya pada umatnya. 

d). Mukjiat itu tidak terkalahkan. Mukjizat harus gagal ditandingi . bila yang ditantang berhasil melakukan hal yang sama, maka dapat dipastikan peristiwa yang dimaksud bukan mukjizat. Untuk membuktikan kegagalan mereka biasanya aspek kemukjizatan masingmasing nabi adalah hal-hal yang sesuai dengan bidang keahlian umatnya. Misalnya mukjizat nabi musa a.s. Yaitu tongkat menjadi ular yang dihadapkan kepada Masyarakat yang teramat mengandalkan sihir pada waktu itu (Aminullah, 2021).  

3. Aspek-Aspek I’jaz Al-Qur’an 

Pendapat dan pandangan pakar ulama Al-Qur’an tentang aspek kemukjizatan Al-Qur’an beragam. Segolongan ulama berpendapat, Al-Qur’an itu mukjizat dengan balaghahnya yang mencapai tingkat tinggi dan tidak ada bandingannya. Sebagian yang lain berpendapat bahwa segi kemukjizatan AlQur’an itu ialah kandungan badi’ yang sangat unik dan berbeda dengan apa yang telah dikenal dalam perkataan orang arab. Akan tetapi Quraish Shihab berpendapat bahwa pada garis besarnya mukjizat Al-Qur’an itu tampak dalam tiga hal pokok. Pertama, susunan redaksinya yang mencapai puncak tertinggi dari sastra bahasa arab. Kedua, kandungan ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu yang diisyaratkannya. Ketiga, ramalan-ramalan yang diungkapkan, yang sebagian telah terbukti kebenarannya (Abdullah, 2014). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa secara umum Al-Qur’an itu mukjizat dengan segala makna yang dibawa dan dikandung oleh lafadz-lafadznya dan juga uslubnya (Rubini, 2016). Sampai saat ini tidak ada kesepakatan ulama dalam menetapkan aspekaspek kemukjizatan Al-Qur’an. Namun demikian, aspek-aspek kemukjizatan Al-Qur’an dapat diklasifikasikan ke dalam empat hal, yaitu aspek kebahasaan, aspek isyarat ilmiah, dan aspek berita ghoib. 

  a). Aspek Kebahasaan 

Gaya bahasa Al-Qur’an membuat orang Arab kagum, terpesona dan melemahkan manusia yang mendengarkannya. Kehalusan ungkapan bahasanya membuat orang di antara mereka masuk Islam. Bahkan Umar bin Khattab pun yang mulanya dikenal sebagai orang yang paling memusuhi Nabi Muhammad SAW. dan bahkan berusaha membunuhnya, memutuskan untuk masuk Islam dan beriman kepada kerasulan Muhammad hanya karena mendengar petikanpetikan Al-Qur’an (Mahrani, 2021). Susunan kalimat dan gaya bahasa Al-Qur’an, yang tidak terikat oleh pola atau susunan syair atau sajak pada saat itu, justru semakin menunjukkan keistimewaan Al-Qur’an yang mencakup semua bentuk puisi dan prosa. Keharmonisan irama yang muncul dari rangkaian kata dan kalimat dalam setiap lafadz dan ayat-ayat Al-Qur’an, semakin memberikan ekspresi keindahan pada setiap qalbu pendengarnya (Bakar, 2014). Mukjizat dari Aspek Bahasa, yang terdiri dari beberapa pembagian yaitu: 

1) Kemu’jizatan dari aspek Bahasa, keindahan nada dan suara singkat dan padat isinya, uraiannya memuaskan para pemikir dan orang kebanyakan juga memuaskan akal dan jiwa serta kesenangan redaksi-redaksi dalam Al-Qur’an. 

2) Kemu’jizatan dari aspek nada, Al-Qur’an mempunyai simponi yang tidak ada taranya dimana setiap nadanya bisa mengerakkan manusia untuk menangis dan bersuka cita“. Hal ini disebabkan oleh huruf dan baris yang dipilih bervariasi melahirkan keserasian bunyi dan kemudian kumpulan kata –kata itu melahirkan keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat-ayat menjadikannya indah sebagaimana fitrah manusia yang mempunyai estetika. 

3) Kemu’jizatan dari aspek kepadatan isi, Al-Qur’an mengandung isinya yang singkat dan padat. Al-Qur’an, kata yang singkat dapat menampung sekian banyak pesan dan makna. 

4) Kemu’jizatan dari aspek kesempurnaan. 

5) Kemu’jizatan dari aspek ketepatan makna. 

6) Keseimbangan Redaksi Al-Qur’an. 

 b). Aspek Isyarat Ilmiah 

Bukti kemu’jizatan yang lain adalah adanya isyarat-isyarat tentang ilmu kauniyah (ilmu alam) yang pada saat itu belum ada yang mengetahui, dan ternyata isyarat-isyarat itu terbukti dengan penemuan ilmu modern saat ini, Padahal Rasulullah hidup di tempat yang jauh dari tempat kemajuan peradaban. Kita ketahui bahwa memang Al-Qur’an bukanlah kitab IPS atau IPA yang memuat setumpuk teori atau rumus secara rinci, tapi isyarat ilmiah dan dorongan untuk meneliti lebih lanjut lagi banyak disebutkan dalam Al- Qur’an (Rubini, 2016). Hakikat ilmiah yang disinggung dalam Al-Qur’an, ditemukan dalam redaksi yang singkat dan sarat akan makna. Ketika pengetahuan itu belum ditemukan, Al-Qur’an pada dasarnya telah memberikan isyarat tentangnya, dan Al-Qur’an sendiri tidaklah mempunyai pretensi pertentangan dengan penemuan-penemuan baru yang dihasilkan oleh penelitian-penelitian ilmiah (Bakar, 2014). Sebagai contoh: Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa “cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri sedang cahaya/sinar bulan berasal dari pantulan (cahaya matahari) perhatikan firman Allah SWT ; هُوَ ٱ ذلَِّي جَعَلَ ٱل ذشمۡسَ ضِيَاءٗٓ وَٱلۡقَمَرَ نوُرٗا وَقَ ذدرَهُۥ مَنَازلَِ لِِعَۡلَمُواْ عَدَدَ ٱل سِنيِنَ وَٱلۡۡسَِا بَ مَا خَلقََ ٱ ذللَُّ ذَلَٰكَِ إ ذلَِّ بٱِلَۡۡ قِِّۚ يُفَ صِلُ ٱلۡأٓيَتَِٰ لقَِوۡمٖ يَعۡلَمُونَ Artinya: “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah- manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).” (QS;Yunus:5).

 c) Aspek Berita Ghaib 

Sebagian ulama mengatakan bahwa mukjizat Al-Qur’an itu adalah berita-berita ghaib. Firaun, yang mengejar-ngejar musa, di ceritakan dalam surat Yunus (10) ayat 92 Allah berfirman yang artinya : “ Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orangorang yang datang sesudahnya dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuatan kami.” Cerita peperangan Romawi dengan Persia yang di jelaskan dalam surat Ar-rum (30) ayat 1-5 merupakan satu berita ghaib lainnya yang di sampaikan Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya: “ Alif Laam Miim. Telah di kalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah di kalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah lah urusan sebelum dan sesudah mereka menang. Dan di hari kemenangan bangsa Romawi itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang di kehendaki-Nya.”(Nuralisah, 2021). 

4. Macam-Macam I’jaz Al-Qur’an 

Macam-macam I’jaz Al-Qur’an Secara garis besarnya, I’jaz dapat dibagi ke dalam dua bagian pokok, yaitu: Pertama, mukjizat yang bersifat material indriawi lagi tak kekal, dan kedua, mukjizat imaterial, logis lagi dapat dibuktikan sepanjang masa”.10 Untuk lebih jelas akan dijelaskan dari kedua bagian pokok berikut ini : 

1) Mu’jizat material inderawi Mukjizat para nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad saw. Semuanya merupakan jenis ”Mukjizat material inderawi”. Mukjizat yang dimiliki oleh para nabi tersebut, dapat langsung disaksikan oleh mata telanjang atau dapat ditangkap oleh indera mata, tanpa perlu dianalisa. Namun peristiwa tersebut hanya ada dan terbatas pada kaum (masyarakat) di mana seorang nabi tersebut diutus. Pada dasarnya, keluarbiasaan yang diberikan Allah kepada para nabi terdahulu tersebut merupakan jawaban atas tantangan yang dihadapkan kepada mereka oleh pihak-pihak lawan, misalnya: perahu Nabi Nuh a.s. yang dibuat atas petunjuk Allah sehingga mampu bertahan dalam situasi dalam ombak dan gelombang yang sedemikian dahsyat, tidak terbakarnya Nabi Ibrahim a.s. dengan dilemparkan dalam kobaran api yang sangat besar, tongkat Nabi Musa a.s. beralih wujud menjadi ular, penyembuhan yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s. terhadap berbagai macam penyakit atas izin Allah dan lain-lain.11 Semua mukjizat tersebut hanya bersifat inderawi siapa pun tidak bisa menolak, namun terbatas bagi masyarakat di tempat para nabi menyampaikan risalahnya, dan berakhir dengan wafatnya nabi-nabi tersebut. 

2) Mu’jizat immaterial logis dan kekal Adapun mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw yaitu mu’jizat yang bersifat immaterial logis dan kekal, yaitu berupa AlQur’an. Hal ini dimaksudkan bahwa Nabi Muhammad diutus kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman.al- Quran sebagai bukti kebenaran ajarannya, ia harus siap untuk disajikan kepada semua orang, kapan pun, tanpa mengenal batas waktu, situasi, dan kondisi apapun.11 Hal ini seiring dengan berjalannya waktu setiap manusia mengalami perkembangan dalam pemikirannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Auguste Comte sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab tentang fase-fase perkembangan pikiran manusia, yaitu: 

a.Fase keagamaan, karena keterbatasan pengetahuan manusia tentang menafsirkan tentang semua gejala yang terjadi, dikembalikan kepada kekuasaan Tuhan atau jiwa yang tercipta dalam pikirannya masing- masing; 

b.Fase metafisika, semua fenomena atau kejadian dikembalikan pada awal kejadian, misalnya: manusia pada awal kejadiannya; 

c.Fase ilmiah, manusia dalam menafsirkan fenomena melalui pengamatan yang teliti dan penelitian sehingga didapat sebuah kesimpulan tentang hukum alam yang mengatur semua fenomena alam ini. Bila Al- Qur’an tidak logis dan tidak dapat diteliti kebenarannya melalui metode ilmiah maka membuat manusia ragu akannya atau akan ada yang mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak berguna lagi tidak bisa dipakai pada saat ini. Hal ini tidak boleh terjadi pada sebuah mu’jizat yang disiapkan untuk sekarang sampai akhir zaman (Nazlianto & Bahri, 2017).

D. KESIMPULAN 

I'jaz Al-Qur'an, yang terdiri dari kata I'jaz dan Al-Qur'an, merujuk pada kemampuan Al-Qur'an untuk menunjukkan kebenaran Nabi Muhammad dalam risalah dakwahnya dengan menunjukkan kelemahan-kelemahan manusia. Meskipun dalam Al-Qur'an maupun hadis tidak ditemukan kata "mukjizat" untuk menunjukkan keistimewaan yang terjadi pada diri Nabi/Rasul, ulama sepakat bahwa sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada diri Nabi/Rasul dinamakan mukjizat. Konsep I'jaz Al-Qur'an juga mengandung makna bahwa Al-Qur'an telah mengabarkan tentang fakta-fakta ilmiah yang kelak ditemukan dan dibuktikan oleh eksperimen sains umat manusia, dan terbukti tidak dapat dicapai atau diketahui dengan sarana kehidupan yang ada pada zaman Rasulullah saw. I'jaz Al-Qur'an juga menetapkan kelemahan ketika mukjizat telah terbukti, sehingga yang tampak kemudian adalah kemampuan atau "mu’jizat" yang melemahkan, oleh sebab itu I'jaz Al-Qur'an menampakkan kebenaran Muhammad SAW dalam pengakuannya sebagai rasul yang memperlihatkan kelemahan manusia dalam menandingi mukjizatnya. Meskipun kata I'jaz atau mukjizat tidak disebutkan dalam Al-Qur'an maupun oleh para penulis terdahulu, konsep ini memberi makna baru yang didefinisikan oleh para teolog sebagai sesuatu yang di luar nalar atau kemampuan akal manusia, menantang, dan tidak mungkin dikalahkan.

E. DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. (2014). Ulumul Qur’an. Pustaka Pelajar. 

Aminullah. (2021). Ulumul Qur’an. Alauddin University Press. 

Bakar, A. (2014). I’JAZ AL-QURAN dan DOKTRIN AL-SHIRFAH. Madania: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 4(1), 116. 

Haidir, A. (2022). Konsep I ’ jaz Dalam Persfektif Ilmu Qur’an. Al-Furqan: Jurnal Ilmu Alqur’an Dan Tafsir, 5(1), 12. https://doi.org/https://doi.org/10.58518/alfurqon.v4i1.980 

Mahrani, N. (2021). I’jaz Al-Qur’an Dan Relevansinya Dengan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. Hikmah: Journal of Islamic Studies, 18(2), 139. https://doi.org/https://doi.org/10.53802/hikmah.v18i2.127 

Mu’in, F., & Rudi, S. (2020). Konstruksi dan Arah Baru Pemahaman Terhadap I’jaz Al-Quran. Ri’ayah: Jurnal Sosial Dan Keagamaan, 5(1), 28–29. 

Nazlianto, R., & Bahri, S. (2017). Ijazul Qur’an: Pengertian, Macam-Macam Dan Polimik Disekitarnya. Al-Murshalah, 3(1), 132. 

Nuralisah, S. (2021). I ’ jazul Al-qur’an. https://doi.org/DOI:10.31219/osf.io/n9z2p

Nurkhatiqah, A., Fitri, C., & Rahmatina, D. (2022). Bedah Makna , Unsur dan Aspek Ijaz Al-Quran. Mushaf Journal: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Hadis, 2(2), 151. 

Pakhrujain, & Habibah. (2022). Jejak Sejarah Penulisan Al- Qur’ an. Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis, 2(3), 224. 

Pasya, A. F. (2004). Dimensi Sains Al-Qur’an. PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 

Rubini. (2016). I’jaz Qur’an. Jurnal Komunikasi Dan Pendidikan Islam, 5(1), 88. 

Shihab, Q. (1998). Mukjizat Al-Qur’an dan Aspek Kebahasan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan yang Ghaib. Mizan. 

Suma, M. A. (2019). Ulumul Qur’an (3rd ed.). Charisma Putra Utama Offset. 

Tarigan, M., Audry, F., Tambunan, F. A. S., Pujiati, P., Badariah, N., & Rohani, T. (2023). Sejarah Peradaban Islam dan Metode Kajian Sejarah. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(1), 1661. 

Ulummudin. (2020). Perkembangan Gagasan I’jaz Al-Qur’an Menurut Isa J. Boullata. Al Furqan: Jurnal Imu Al Quran Dan Tafsir, 3(1), 49.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENELAAH TERJEMAHAN SURAH AL-WAQI’AH DAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA

MENELAAH TERJEMAHAN SURAH AL-WAQI’AH DAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA NUR ADIL MIRAJ 862082022065 Email: adilmiraj22@g...