TAKWIL AYAT-AYAT MIMPI PERSPEKTIF TAFSIR AL-AZHAR DAN TAFSIR AL MISBAH
AHMAD NUR HIDAYAT AGUS
NIM. 862082022064
E-mail: lapataubone3@gmail.com
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BONE
ABSTRAK
Bermimpi adalah sebuah hal yang sudah familiar di telinga manusia. Sejak awal
sejarah manusia sudah banyak muncul berbagai dugaan dan keyakinan yang bersifat imajinatif ataupun tidak, yang menjadi sebuah misteri. Berdasarkan fakta tersebut Islam memberikan perhatian yang lebih dalam pemaknaan dan penafsiran mimpi demi mendapatkan hasil intrepertasi yang tetap dan sempurna. Didalam AlQuran kurang lebihnya ada 14 ayat yang membahas tentang mimpi. Dalam penelitian yang dilakukan, penulis menggunakan tafsir AlAzhar dan Al-Misbah guna mengetahui takwil ayat-ayat mimpi dan untuk mengetahui persamaan dan perbedaanya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang memiliki sifat content analysis (analisis isi) yang dilakukan melalui riset kepustakaan (library research). Dengan menggunakan data primer tafsir Al-Azhar dan tafsir Al-Misbah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan muqaran atau komparatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya di dalam ayat-ayat mimpi terdapat beberapa hikmah yang dapat kita jadikan sebagai suri tauladan yang penting dalam hidup kita. Diantaranya adalah, pendidikan akhlaq al-karimah bagi anak, menjauhi iri dan dengki, setiap perbuatan yang kita lakukan pasti akan menerima ganjaran atau balasan yang setimpal dengannya dan kita harus selalu mempersiapkan diri untuk segala sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan mendatang. Adapun persamaan kedua mufassir adalah dalam menafsirkan ayat-ayat tentang takwil mimpi ini Hamka dan juga Quraish Shihab memberikan penakwilan yang sama dari ayat-ayat mimpi dalam surat Yusuf. Dan perbedaannya adalah Hamka menakwilkan mimpi Yusuf pada surat Yusuf ayat 4 adalah sebagai tanda risalah nubuwah dan Quraish Shihab tidak menjelaskan hal tersebut. Sedangkan Quraish Shihab pada surat Yusuf ayat 36 dan ayat 43 menjelaskan bahwa mimpi sang pelayan roti raja adalah mimpi bohong dan takwil mimpi raja adalah sebuah perintah pada raja dan masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi masa krisis yang akan datang, dan Hamka tidak menjelaskan hal tersebut.
Kata Kunci : Takwil, Mimpi, Ayat-ayat mimpi, Kisah Nabi Yusuf AS
A. PENDAHULUAN
Di dalam Al-Quran banyak sekali petunjuk-petunjuk yang diperuntukkan bagi seluruh kaum muslim dan bahkan seluruh umat 4 manusia di dunia yang dimana ajaran-ajarannya telah dipaparkan dan juga disampaikan dengan banyak macam variasi, dan juga dikemas dengan apiknya. Berbagai macam informasi dan juga perintah serta larangan adalah ajaran-ajaran yang ada di dalam AlQuran, dan ada juga yang berbentuk deskripsi atau kisah yang di dalamnya terdapat pelajaran bagi umat manusia yang biasa disebut dengan kisah-kisah AlQuran. Bermimpi adalah sebuah hal yang sudah familiar di telinga manusia. Sejak awal sejarah manusia sudah banyak muncul berbagai dugaan, kepercayaan dan keyakinan yang bersifat imajinatif ataupun tidak, yang menjadi sebuah misteri. Maka, berdasarkan fakta tersebut Islam memberikan perhatian yang lebih dalam pemaknaan dan penafsiran mimpi demi mendapatkan hasil intrepertasi yang tetap dan sempurna. Di dalam Al-Quran pada surat As-Shafat, di saat Nabi Ibrahim menceritakan mimpi yang telah dialaminya kepada anaknya Ismail yang pada saat itu bertepatan pada tanggal 8 Dzulhijjah dan Ismail berusia 9 tahun. Di dalam mimpi itu Nabi Ibrahim As. diperintahkan untuk menyembelih anaknya Ismail. Setelah mimpi tersebut diceritakan kepada Ismail, ia pun akhirnya bersedia mentaati mimpi tersebut karena dia yakin bahwasanya ini adalah perintah dari Allah SWT. Pada keesokan harinya ketika Nabi Ibrahim As. akan menyembelih anaknya, digantikanlah posisi anaknya Ismail oleh Allah dengan seekor domba. Maka dari kejadian inilah asal muasal sejarah hari raya Idul Adha.1 Di antara faedah serta pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim As. serta Nabi Yusuf As. adalah dasar-dasar ilmu Tafsir Mimpi. Perlu diketahui bahwa ilmu tentang tafsir mimpi adalah ilmu berharga lagi penting yang berlandaskan pada kearifan yang tajam, penyelaman ungkapan, pesan-pesan yang bisa dirasakan, dan beragam konsep dan apapun yang dapat dipahami menurut situasi pemimpi, waktu dan kondisi yang berhubungan dengan mimpi. Allah SWT memuji Yusuf karena kecerdasannya dalam mentakwil berbagai berita. Hukum dan beritaberita yang berhubungan dengan tafsir mimpi. Berbeda dengan mimpi dusta yang tidak patut ditakwilkan, misalnya mimpi yang dialami oleh orang yang sedang melamun dan berandai-andai, yang pada hakekatnya hanyalah bayang-bayang lamunan dan pikirannya sendiri pada saat terjaga. Inilah yang sering terjadi. Maka hal seperti ini bukanlah mimpi yang benar melainkan mimpi yang dusta yang tidak patut ditakwilkan. Demikian juga mimpi yang disebabkan oleh bisikan setan kepada ruh orang yang terlelap adalah mimpi yang bohong dan sinyal-sinyal yang kacau, mimpi seperti ini tidak patut untuk ditakwilkan. Tidak seyogyanya orang yang berakal sehat mengisi pikirannya dengan lamunan-lamunan siasia, sebaliknya ia mesti membuang jauh-jauh itu semua.
Adapun mimpi yang benar merupakan ilham yang Allah tanamkan kepada jiwa seseorang saat berpisah dari badan dalam tidur, atau sinyal-sinyal yang dibuat oleh malaikat agar bisa dipahami untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Terkadang seseorang bermimpi tentang sesuatu yang nyata sedangkan tafsirnya adalah apa yang dilihat dalam mimpinya itu. Itulah sebabnya Nabi Yusuf dikaruniai Allah SWT ilmu pengetahuan yang bisa membedakan antara mimpi yang benar dan mimpi yang dusta, antara yang haq dan yang bathil.
1 https:// lifestyle.okezone.com / read / 2019 / 02 / 16 / 196 / 2018690 / mimpi- mimpiparanabi- yang- menjadi- sebuah- sejarah diakses pada tanggal 21 Desember 2023.2 Al-Munajid Muhammad Shalih & As-Sa’di Abdurrahman bin Nasir, Keajaiban
Surat Yusuf (Solo: Qaula, 2009), h. 14-15.
Sedangkan kisah Nabi Ibrahim As. dan Nabi Yusuf As. ini memuat indikator tafsir mimpi dari berbagai aspek.
B. METODE PENELITIAN
Al-Quranu-l-Karim menjadi objek utama dalam penelitian ini, dan guna menalaah serta mendapatkan pemahaman mengenai ayat-ayat Al-Quran maka digunakanlah penafsiran. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode AlMuqaran (Komparatif). Digunakannya metode tersebut oleh penulis karena peneliti akan melakukan perbandingan penafsiran ayat AlQuran dari 2 orang mufasir yaitu Buya Hamka dalam bukunya Tafsir Al-Azhar dan M. Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir Al-Misbah. Dari kedua tafsir itulah yang akan peneliti gunakan dalam membandingkan penafsiran tentang ayat-ayat mimpi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian penilitian kepustakaan (library research). Penilitian kepustakaan adalah sebuah jenis penelitian yang dimana kajiannya dilaksanakan dengan mencari dan menelaah literartur atau sumber-sumber tertulis baik berupa buku-buku, artikel, dan jurnaljurnal, yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pengertian Takwil, Penakwil dan Etika Penakwil
a. Etimologi Takwil
Secara bahasa, kata takwil berasal dari bahasa arab yaitu kata ala-ya’ulu-aulan )آل – أيول – لوَّأ ) yang bermakna kembali, yaitu kembalinya suatu hal yang bisa dikembalikan ke penyebab awal. Kata takwil juga berasal dari kata ma’al, yang bermakna kesudahan. yaitu segala sesuatu yang ketika dipahami menjadikannya berbeda dari
asalnya.
b. Terminologi Takwil
Pengertian takwil menurut pandangan para ulama ialah:
1) Al-Jurzani berpendapat bahwa takwil merupakan memalingkan suatu lafazh dari arti lahiriah kepada arti kandungannya, apabila arti alternatif yang dipandangnya sesuai dengan ketentuan Alkitab dan As-sunnah.
2) Menurut ulama khalaf takwil merupakan pengalihan suatu lafazh dari suatu arti yang raajih pada suatu arti yang marjuh dikarenakan terdapatnya suatu indikasi untuk itu.
3) Menurut ulama mutaakhiriin, baik dari kalangan fuqaha, mutakallimin, ahli hadis dan ahli sufi memiliki pendapat bahwasannya takwil merupakan memalingkan lafazh dari makna yang zhaahir kepada makna yang lebih kuat kemungkinannya yang juga dibarengi dengan dalil dalilnya. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan takwil adalah suatu usaha untuk memahami dan mengungkap makna yang tersembunyi dari lafazh-lafazh dari ayat-ayat Al-Qur’an melalui suatu pendekatan dalam memahami suatu makna atau maksud yang menjadi kandungan dari lafazh itu.
c. Penakwil
Tidak setiap manusia mempunyai suatu kemampuan dalam menakwilkan mimpi secara jelas serta benar. Orangorang yang bisa melakukan hal tersebut merupakan orangorang yang telah diberi suatu karunia oleh Sang Kholiq yang termasuk pembawaan sejak lahir. Pembawaan sejak lahir yang dimaksud, yaitu suatu daya untuk melihat dengan menggunakan mata hati akan berbagai macam hal-hal ghaib. Pemilik daya ini mampu dalam mengontrol karakteristik rohaniahnya untuk menakwilkan mimpi dengan tepat juga sesuai dengan realita. Sedangkan orang-orang yang tidak mempunyai suatu keistimewaan tersebut hanya sekedar bisa memberikan takwil-takwil yang dusta.
Ali Bin Muhammad Al-Jurjani, Kitab At-Ta’rifat (Beirut: Dar Al-Kutub AlIlmiah, 1988),h. 506 Zainuddin dan Moh. Ridwan, TAFSIR,TA’WIL DAN TERJEMAH, Jurnal Al- Allam 1 No.1 (2020): n. h. 7.7 Muhammad Ibnu Sirin, Tafir Mimpi Menurut Al-Quran Dan Sunnah (Jakarta: GemaInsani, 2015), h. 15.
d. Etika Penakwil
Para penakwil memiliki banyak cara dalam membuatkesimpulan Takwil dan jumlahnya tidak terbatas. Bahkan cara itu terus bertambah sesuai dengan pengetahuan penakwil kecerdasannya dan bakatnya. Dalam menakwilkan mimpi penakwil hendak mengindahkan etika berikut ini :
1) Jika penakwil hendak menyimak penjelasan mimpi dari seseorang hendaknya dia mengatakan Insya Allah kita akan memperoleh kebaikan dari mimpi itu dan terhindar dari keburukannya Semoga kebaikan bagi kita dan keburukan bagi musuh segala puji kepunyaan Allah SWT Tuhan semesta alam, silakan ceritakan mimpimu.
2) Menyimak penjelasan mimpi dengan baik kemudian lakukanlah penakwilan dengan tidak tergesa-gesa Janganlah mengemukakan Takwil kecuali setelah mengkajinya.
3) Mimpi merupakan rahasia dan aurat manusia karena itu penakwil tidak boleh menceritakan Takwilnya kecuali kepada pelaku mimpi dan jangan menceritakannya dihadapan orang
lain.
4) Hendaknya penakwil membedakan para pelaku mimpi maka janganlah menawarkan mimpi seorang pejabat seperti menakwilkan mimpi orang kebanyakan.
5) Mengolah mimpi yang diceritakan kepada penakwil apabila mimpi tersebut baik, maka takwilkanlah serta beritakanlah kabar gembira terhadap pelakunya. Apabila mimpi itu buruk tahanlah diri anda dari menakwilkannya atau takwilkanlah menurut kemungkinan takwil yang paling baik.
Ma’mar bin Rasyid dan Jami’ Ma’mar Bin Rasyid (Cet. XI; Pakistan: Al-Majlis Al-’Ilmi,
1982), h. 212.
2. Takwil Mimpi Menurut Pandangan Islam
Kitab al-Quran sangat memberikan perhatian yang sangat besar untuk perkara mimpi. Mimpi merupakan suatu peristiwa yang dirasakan dialam bawah sadarnya seseorang yang muncul saat seseorang sedang tertidur. Akan tetapi bagi orang yang tertentu saja mimpi memiliki arti tersendiri yang terkandung didalamnya kabar gembira dan juga peringatan terhadap orang yang sedang bermimpi serta yang dimimpikan. Begitupun mimpi yang dialami oleh para Nabi merupakan wahyu dari Allah SWT.
Di dalam agama Islam, takwil mimpi sering dikenal sebagai ta’bir mimpi atau tafsir mimpi yang memiliki arti menjelaskan serta memberikan keterangan-keterangan yang berkaitan dengan mimpi. Pemakaian ta’bir layaknya yang tertulis dalam surat Yusuf ayat 43. Di dalam al-Quran menggunakan kata takwil untuk menafsirkan arti dari mimpi manusia, hal itu ada di dalam surah Yusuf ayat 6, 21. 37, 44 dan 45, 100 dan 101. Takwil serta tafsir dalam hal mimpi memiliki makna yang sama yakni keterangan. Begitu pula dengan hadits-hadits Nabi memakai 2 istilah tersebut guna menafsirkan arti dari sebuah mimpi. Tafsir mimpi bisa dibilang sebagai usaha guna menerangkan arti dari sebuah mimpi guna mendapatkan informasi informasi dari mimpi itu. Mimpi-mimpi Nabi yang dianggap sebagai wahyu dari Allah SWT. Salah satunya merupakan mimpi Nabi Yusuf As. yang di dalam mimpinya
melihat matahari, bulan, serta 11 bintang yang bersujud kepadanya. Mimpi itu kemudian menjadi kenyataan, yang mana 11 bintang ditakwilkan bahwa itu adalah 11 saudaranya dan matahari dan bulan merupakan orang tua Nabi Yusuf As. Nabi Yusuf As, menaikkan kedua orang tuanya kemudian mendudukkannya di atas singgasana kerajaan sebagai bentuk penghormatan lebih dari pada apa yang telah dilakukan kepada saudara-saudara Nabi Yusuf As. Mereka merebahkan diri sambil bersujud menghormati Nabi.
Izzudin Ahmad, The Secret of Surah Yusuf Mengungkap Rahasia Hikmah Dibalik Surah
Yusuf (Depok: Mutiara Alamah Utama, 2014), h. 31
Yusuf seperti biasanya orang-orang menghormati raja dan orang-orang besar pada waktu itu. Ibnu Sirin dalam bukunya berpendapat bahwa dalam pandangan agama Islam menyebutkan bahwasannya, tidak semua mimpi bisa ditakwilkan atau di tafsirkan, dari mimpi yang terkandung di dalamnya. Ada
saatnya mimpi itu diibaratkan bagai angin lalu, adapula yang benar-benar menjadi kenyataan. Mimpi dari manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. merupakan berita yang berlaku, dikarenakan Rasulullah SAW, tidak bermimpi kecuali mimpi beliau menjadi kenyataan. Sedangkan mimpi manusia yang tidak bertaqwa merupakan mimpi yang berasal dari syaitan. Di dalam riwayat telah dikisahkan seorang perempuan bertanya kepada Rasulullah SAW, ia mengatakan; “Yaa Rasulullah SAW, aku bermimpi melihat beberapa tubuh Rasulullah ada di rumahku.” Rasulullah SAW menjawab, “Sesungguhnya Fatimah itu akan melahirkan anak laki-laki, kemudian engkaulah yang akan menyusuinya.” tidak lama setelah kejadian itu Fatimah melahirkan Husein kemudian disusui oleh perempuan tersebut. Dalam mentakwilkan suatu mimpi, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan seperti pokok, keadaan mimpi, serta dalilnya. Pokok mimpi yang selalu berhubungan dengan jenis, kategori, serta karakter. Ada seseorang yang bermimpi sebatang pohon menaunginya, maka dari itu
pohon disebut jenis, kemudian adanya sebagai pohon disebut sebagai kategori, serta keberadaan pohon tersebut yang bisa berbuah manis serta bermanfaat itu disebut sebagai karakter.53 Layaknya, manusia yang bermimpi tentang pohon kurma yang meneduhinya, ditakwilkan sebagai laki-laki yang baik, manfaat yang diberikan banyak, serta dermawan. Begitu pun keadaan orang-orang yang sedang bermimpi (keperibadiannya, lingkungannya, statusnya ditengah masyarakat, tabiatnya, agamanya, dan kondisi penghidupannya). Dari keadaan tersebut bisa dijadikan petunjuk guna menakwilkan mimpi seseorang. Begitu pulawaktu dan tempat mimpi bisa dijadikan sebagai pertimbangan. Dimana orang-orang yang bermimpi pada tengah hari pada awal bulan, maka mimpi itulah yang disebut sebagai mimpi yang benar serta mimpi pada saat tanggal satu menyampaikan berita kebaikan.
D. KESIMPULAN
Di dalam ayat-ayat mimpi terdapat beberapa hikmah yang dapat kita jadikan sebagai suri tauladan yang pentingdalam hidup kita. Diantaranya adalah, pendidikan akhlaq al-karimah bagi anak, menjauhi iri dan dengki, setiap perbuatan yang kita lakukan pasti akan menerima ganjaran atau balasan yang setimpal
dengannya dan kita harus selalu mempersiapkan diri untuk segala sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan mendatang. Adapun persamaan kedua mufassir adalah dalam menafsirkan ayat-ayat tentang takwil mimpi ini Hamka dan juga Quraish Shihab memberikan penakwilan yang sama dari ayat-ayat mimpi dalam surat Yusuf. Dan perbedaannya adalah Hamka menakwilkan mimpi Yusuf pada surat Yusuf ayat 4 adalah sebagai tanda risalah nubuwah dan Quraish Shihab tidak menjelaskan hal tersebut. Sedangkan Quraish Shihab pada surat Yusuf ayat 36 dan ayat 43 menjelaskan bahwa mimpi sang pelayan roti raja adalah mimpi bohong dan takwil mimpi raja adalah sebuah perintah pada raja dan masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi masa krisis yang akan datang, dan Hamka tidak menjelaskan hal tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Izzudin. 2014. The Secret of Surah Yusuf Mengungkap Rahasia Hikmah
Dibalik Surah Yusuf. Depok: Mutiara Alamah Utama.
Al-Jurjani, Ali Bin Muhammad. 1988. Kitab At-Ta’rifat. Beirut: Dar Al-Kutub
AlIlmiah.
Bilal, Abu Ameenah. 2003. Tafsir Mimpi Menurut Al-Qur’an Dan Sunah. Jakarta:
Lintas Pustaka.
https:// lifestyle.okezone.com / read / 2019 / 02 / 16 / 196 / 2018690 / mimpimimpipara- nabi- yang- menjadi- sebuah- sejarah Ma’mar bin Rasyid dan Jami’ Ma’mar Bin Rasyid. 1982. Cet. XI; Pakistan: AlMajlis Al-’Ilmi.
Nata, Abudin. 2000. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Press.
Shalih, Al-Munajid Muhammad & As-Sa’di Abdurrahman bin Nasir. 2009.
Keajaiban Surat Yusuf. Solo: Qaula.
Shihab, M. Quraish. 2013. Kaidah Tafsir. Tangerang: Lentera Hati.
Sirin, Muhammad Ibnu. 2015. Tafir Mimpi Menurut Al-Quran Dan Sunnah.
Jakarta: Gema Insani.
Zainuddin dan Moh. Ridwan. 2020. TAFSIR,TA’WIL DAN TERJEMAH. Jurnal AlAllam
1 No. 1.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar